Oligarki Partai
Boni Hargens
KOMPAS Cetak |
Dalam Kongres IV PDI Perjuangan di Bali (9-11 April
2015), Megawati Soekarnoputri kembali menjadi ketua umum. Sebagian
pengamat menuduh itu sebagai skenario mengekalkan patronase. Benarkah begitu?
Sebelumnya, dalam kongres luar biasa, 20 September 2014, Partai Gerindra
menetapkan secara aklamasi Prabowo Subianto sebagai ketua umum. Apakah ini juga
konfirmasi akan adanya patronase?
Belum lama, 11-13 Mei 2015, dalam kongres di Surabaya, Susilo Bambang
Yudhoyono kembali ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Padahal, dalam
kongres luar biasa di Bali, Maret 2013, SBY berjanji hanya menjabat ketua umum
pada masa transisi. Apakah ini model dinasti politik Cikeas?
Oligarki absolut
Tahun 1911, sosiolog Jerman, Robert Michels (1876-1936), memunculkan tesis
"hukum besi oligarki" dalam bukunya berjudul Zur Soziologie des Parteiwesens
in der modernen Demokratie: Untersuchungen Über die oligarchischen Tendenzen
des Gruppenlebens (Sosiologi Sistem Kepartaian dalam Demokrasi Modern:
Studi tentang Tendensi Oligarki dalam Kehidupan Organisasi)-yang dalam
literatur terjemahan biasa dikenal dengan judul "political
parties" saja.
Michels datang dari keluarga pengusaha tekstil sukses di kota
Koeln. Ia paham betul korelasi kapital dan kekuasaan. Ia aktif di sayap kiri
Partai Sosial Demokrat Jerman-bahkan ikut bertarung dalam pemilu federal tahun
1907 meski tak terpilih.
Tahun 1901, Michels pindah ke Italia dan bergabung dengan sindikalisme
revolusioner, sayap kiri Partai Sosialis Italia. Tahun 1922, sesudah Perang
Dunia I, ia bergabung dengan Partai Fasis-nya Benito Mussolini, mantan pemimpin
redaksi koran sosialis Avanti! di mana Michels juga pernah
menulis.
Bagi Michels, setiap bentuk organisasi politik-meskipun tampak demokratis di
awal!-selalu mengandung tendensi oligarkis di dalamnya. Makin besar sebuah
organisasi, fluiditas strukturalnya makin relatif, kompleks, dan ruwet.
Dalam situasi itu, pengambilan keputusan tak lagi di tangan organisasi
(karena terlalu rumit!), tetapi di tangan segelintir elite yang berkuasa di
dalamnya. Maka, keberadaan oligarki dalam politik adalah mutlak (Hartmann, Elitesoziologie,
2004).
Michels menggambarkan absolutisme oligarki dalam ungkapan: Wer
Organisation sagt, sagt Tendenz zur Oligarchie-siapa yang menyebut
organisasi, ia menyebut oligarki (Michels, 1911:33).
Bagaimana kita?
Elite berkuasa
Relevansi Michels adalah bahwa segelintir elite selalu berkuasa dalam
partai. Kita sudah lihat, tiga partai besar sama-sama dikuasai orang kuat: SBY
(PD), Prabowo (Gerindra), dan Megawati (PDIP). Konstruksi besar dari kekuasaan
dalam tiga partai ini tidak banyak berbeda. Hanya saja, persepsi dan penerimaan
publik yang berlainan.
Patronase Prabowo di Gerindra relatif tak dipersoalkan karena Prabowo
benar-benar berjuang untuk partai. Ia sungguh membangun fondasi ideologis dan
memperkuat basis partai. Gerindra menjadi solid. Dengan kata lain,
oligarki di tubuh Gerindra bertindak atas nama dan untuk partai, bukan untuk
oligarki an sich.
PDIP tak jauh berbeda. Sebagai kelanjutan dari perjuangan politik
nasionalisme Bung Karno, PDIP memiliki akar historis yang kuat. Itu sebabnya,
banyak yang melihat wajar trah Soekarno menjadi perekat dan penguat
partai berlambang banteng ini. Kekuasaan di tubuh partai ini bukan di
tangan oligarki, tetapi di tangan keluarga. Legitimasi mereka tidak dibangun dengan
kapital dan dukungan material lainnya, tetapi diperoleh dari tradisi dan
sejarah.
Bagaimana dengan PD? PD bukan partai yang lahir dari tradisi dan sejarah. Ia
lahir sebagai proyeksi dari kejenuhan publik terhadap partai lama pasca 1998.
SBY adalah figur sentral sejak awal dan belum tergantikan.
Awal berkuasa 2004, partai ini menjadi bintang. Tahun 2009, menang
pemilu. Namun, setelah kader-kadernya terjerat korupsi dan kinerja
pemerintah menuai banyak kritik, partai ini berantakan. Tahun 2014, perolehan
suaranya anjlok.
Loyalis Cikeas menuduh elite partai yang terjerat korupsi sebagai casus
belli. Ada benarnya. Meskipun, manajemen partai secara keseluruhan
juga perkara besar. Sepuluh tahun SBY berkuasa, PD hanya menjadi mesin penopang
kekuasaan dan perkakas pengeruk keuntungan.
Partai tidak dibangun serius. Penguatan ideologi luput dari perhatian.
Loyalitas yang dibangun tak berbasis partai, tetapi Cikeas-based loyalty,
berbasis keluarga Cikeas.
Sesudah SBY meninggalkan kekuasaan, kader terbelah. Sebagian mulai gelisah
kehilangan patron. Untuk menjamin masa depan, mereka "memaksakan" SBY
terus menjadi ketua umum. Yang sedikit idealis melihat ada terang di ujung
terowongan. Mereka menuntut regenerasi politik secara demokratis. Namun,
faktanya, bandul ternyata tak bergeser sedikit pun.
SBY dipertahankan secara aklamasi dalam kongres Surabaya. Situasi ini bisa
dibaca dalam dua konteks. Pertama, SBY dipilih dengan alasan keutuhan partai
dan dengan tujuan menjamin rekonsolidasi internal. Pilihan ini mengandaikan SBY
akan melakukan gebrakan besar dalam menata kembali partai yang sudah ambruk
lima tahun terakhir. Mungkinkah itu bisa terjadi pada saat popularitas SBY
justru memasuki fase antiklimaks?
Kedua, SBY dipilih sebagai konfirmasi terhadap tesis Michels bahwa keputusan
partai adalah keputusan segelintir orang kuat di dalamnya. Kehendak mereka yang
menguasai sumber modal dan jaringan partai sulit dilawan sekalipun bisa
dipersoalkan.
Kalau itu yang terjadi, maka keterpilihan SBY menyisakan keraguan yang
serius tentang apakah partai ini bisa bangkit ke depan. Karena untuk membangun
fondasi ideologis dan memulihkan citra, sebagai PR besar partai ini, dibutuhkan
kepemimpinan ideologis yang berorientasi kepada penguatan partai bukan dinasti
politik.
Boni HargensDirektur Lembaga Pemilih Indonesia
No comments:
Post a Comment