Ketika
Adam, manusia pertama di bumi, memetik daun untuk menutupi bagian
tubuhnya yang telanjang, juga tubuh Hawa, ketika itu tercipta model pertama kalinya. Peristiwa yang terus berkembang dengan penemuan
pakaian, sampai kemudian menjadi industri busana. Salah satu profesi
yang terangkat ke permukaan adalah desainer, sang perancang. Dan yang
sering lebih menarik perhatian adalah sang model. Atau memperagakan
pakaian, juga dikenal sebagai peragawati. Namun istilah model lebih
popular. Barang kali lebih pendek pengucapannya, barang kali punya
banyak makna. Karena model bisa dikaitkan dengan lukisan—misalnya
menjadi model lukisan. Biasanya untuk pelajaran anatomi.
Model
juga berarti barang tiruan dengan ukuran yang lebih kecil dari aslinya.
Misalnya model rumah atau model pesawat terbang. Model dalam artian
orang yang pekerjaannya memperagakan contoh pakaian termasuk dalam
sorotan besar. Banyak yang terkait dengan nama besar—yang berarti juga
bayaran besar melebihi gaji menteri, banyak yang merangkap kerja sebagai
artis, atau seleb yang sekaligus model iklan. Lobi dan hasil gaulnya
juga kelas tinggi—kalau tidak tinggi sekali.
Penampilannya
selalu elok, di bawah lampu terang, bau harum, dari jenis pakaian yang
sangat anggun, atau sensual. Dan menarik perhatian, kadang melebihi
pakaian yang diperagakan. Sangat mungkin sekali karena para model ini
memiliki tinggi badan tertentu. Dengan kaki menjulang, dengan gaya
melenggang yang menawan, dengan nyaris tanpa senyum, menciptakan aura
tersendiri.
Dengan
demikian para model ini memang tidak seperti kebanyakan dari kita yang
bukan model. Wajar juga kalau dinamika mereka berbeda, termasuk sikap
dan pendekatan dalam kehidupan atau bermasyarakat. Juga tak terlalu aneh
kalau kemudian para model ini dikaitkan dengan gosip, dengan berita
miring, dengan isu berkaitan dengan kisah cinta atau kisah nafsu, atau
dua-duanya.
Yang
menurut saya juga sangat mungkin terjadi sebagaimana profesi lain di
dunia yang serbe gemerlap, serba bling, serba jadi sorotan. Profesi mana
pun kalau dikuliti pasti juga terlihat lubang pori-porinya. Belum lama
ini saya “menjebakkan diri” dalam kegiatan peragaan busana. Berada di
belakang panggung bersama sekitar 50 model ternama, juga beberapa dari
luar negeri. Di sinilah terlihat nyata bahwa untuk persiapan diperlukan
jam-jam yang kelewat panjang. Dengan latihan seperti pemain teater,
dengan berhias jam-jam sebelumnya, dengan asisten dan kesibukkan yang
sangat tinggi.
Bahkan kalau pun hanya untuk tampil satu atau dua menit— dengan
memperagakan pakain dari ujung ke ujung dan balik lagi, tidak mengurangi
jam-jam yang dihabiskan untuk persiapan. Itu semua berlangsung dalam
udara yang diatur dingin, ketika jenis pakaian yang diperagakan tidak
disiapkan untuk itu. Atau malah jenis pakaian yang sangat berbeda.
Dengan kata lain untuk perhelatan yang hanya satu jam, diperlukan
belasan jam untuk latihan, dan terutama koordinasi dari sekian banyak
orang yang mendampingi, merias, menyisir. Ini belum termasuk yang menyiapkan panggung dengan tata cahaya atau tata musik atau tata slide, atau apa saja yang diperlukan.
Sungguh
kegiatan kreatif yang tidak sederhana. Kegiatan kreatif yang sama
dengan proses membuat film, memroduksi pementasan, termasuk pertunjukkan
musik. Tuntutan industri, dengan perhitungan menit demi menit,
koordinasi sekian ratus orang, peranan masing-masing penanggung jawab
yang saling tergantung satu sama lain. Untuk kesuksesan—atau kegagalan.
Pendekatan inilah yang kini diaktualkan dengan istilah ekonomi kreatif
yang menjadi sumber pendapatan Negara.
Di
tengah kesibukan dinamis yang demikian tinggi, tuntutan untuk
kesempurnaan dan daya saing yang keras, tiba-tiba hal yang menyangkut
kisah kurang sedap para model, adalah hal yang tak penting-penting amat.
Dalam artian industri kreatif akan terus berjalan , mesin telah
menyala, argo terus menghitung angka-angka, dan dunia usaha busana, tak
menjadi reda karena kasus satu atau seratus modelnya. Karena selain
Adam, kita semua membutuhkan daun yang anggun untuk menutupi
ketelanjangan kita dan menampilkan daya tarik melalui itu. |
No comments:
Post a Comment