Andre Notohamijoyo
KompasCetak |
Gema tentang Masyarakat Ekonomi
ASEAN yang akan berlaku akhir 2015 sudah sangat nyaring. Berbagai
pertemuan dan kajian tentang MEA pun sudah sangat banyak dilakukan.
Sebagai
orang yang banyak berkecimpung dalam kerja sama ASEAN, penulis justru
tidak tahu harus bagaimana menyikapi MEA. Kerja sama ASEAN tidak pernah
dan hanya berkisar seputar rapat, lokakarya, pelatihan, dan seminar. Ada
gurauan di antara para delegasi: "Selesai acara, selesai pula
persoalan". Bagaimana mewujudkan integrasi ekonomi dengan kondisi
demikian?
Penulis kerap berdiskusi dengan rekan-rekan sesama
delegasi ASEAN. Mereka umumnya mengeluhkan lambatnya perkembangan isu
yang dibahas di ASEAN dan tidak pernah tuntas. Sebagai contoh, kerja
sama komoditas pertanian dan kehutanan lingkup ASEAN di bawah kerangka
Joint Committee on Agriculture and Forestry Product Promotion Scheme
yang telah diinisiasi lebih dari 20 tahun lalu, sebagian besar stagnan
dan bahkan beberapa komoditas (seperti lada, tapioka, kelapa, kacang dan
bebijian, produk kayu, dan kelapa sawit) dalam beberapa tahun terakhir
tidak lagi ada perkembangan. Tercatat hanya pertemuan terkait komoditas
tuna dan rumput laut yang rutin diselenggarakan secara tahunan.
Kerja
sama intra-ASEAN dalam bidang perdagangan barang, jasa, serta investasi
secara alamiah sebetulnya sudah berjalan bagus dan integrasi ekonomi
lebih konkret terlihat. Produk-produk ekspor dengan mudah ditemui di
jaringan retail negara-negara ASEAN. Begitu pula jaringan restoran,
waralaba, jasa keuangan, hingga bisnis daring. Meskipun tentu saja ada
peran pemerintah atas terwujudnya kerja sama tersebut, sebetulnya kerja
sama antarpelaku usaha terjadi karena adanya kepentingan ekonomi
alih-alih karena dorongan negara.
Konvergensi ASEAN justru
semakin melemah. Tengoklah, sangat sedikit pameran dagang yang memakai
atribut ASEAN. Demikian pula pameran internasional di luar ASEAN yang
memakai embel-embel ASEAN. Proyek-proyek pembangunan yang diinisiasi
ASEAN terhitung sangat sedikit. Bisa jadi pabrik pupuk ASEAN Aceh
Fertilizer di Aceh yang sekarang sudah tutup akibat kekurangan pasokan
gas dan mismanajemen merupakan proyek terakhir ASEAN.
Delapan kendala
Mengapa kerja sama G to G di ASEAN cenderung stagnan? Penulis menengarai ada beberapa faktor penyebab.
Pertama, latar belakang pendirian ASEAN cenderung karena dorongan dari
pihak-pihak di luar kawasan Asia Tenggara yang menginginkan stabilitas
politik di kawasan tersebut untuk melancarkan kepentingan ekonominya.
Akibatnya, selama ini peran ASEAN lebih kuat sebagai lembaga resolusi
konflik.
Kedua, negara-negara ASEAN secara alamiah punya
keunggulan komparatif yang sama, yaitu sebagai negara agraris maritim
dengan produk yang relatif sama, kecuali Singapura (negara kota) dan
Laos (negara landlocked). Secara alamiah pula negara-negara ASEAN merupakan kompetitor satu sama lain dalam ekspor produk pertanian dan perikanan.
Ketiga,
negara-negara ASEAN tidak terintegrasi secara geografis sehingga posisi
geopolitik setiap negara berbeda. Proyek pembangunan kereta cepat
trans-Singapura-Malaysia-Tiongkok tak punya pengaruh positif secara
signifikan bagi pembangunan kawasan timur ASEAN, seperti Brunei,
Indonesia, dan Filipina. Demikian pula dengan pembangunan waduk-waduk di
Laos yang memasok listrik hingga ribuan megawatt yang memosisikannya
sebagai "Battery of ASEAN" tidak berpengaruh pada keseluruhan kawasan,
kecuali pada subkawasan Indocina.
Keempat, negara-negara ASEAN
secara historis memiliki riwayat konflik antarnegara yang cukup rumit.
Persoalan batas wilayah, lalu lintas pekerja migran, dan perdagangan
tradisional di perbatasan masih menjadi isu yang relevan hingga saat
ini.
Kelima, perbedaan level ekonomi antarnegara menyebabkan
adanya perbedaan kemampuan mengimplementasikan suatu kesepakatan pada
setiap negara. Perbedaan tersebut juga menyebabkan disparitas
pertumbuhan antarbagian dalam kawasan ataupun subkawasan.
Keenam,
ketiadaan kepemimpinan ASEAN. Selama 20 tahun terakhir tidak ada satu
pun pemimpin negara ASEAN yang berani mengambil inisiatif kepemimpinan
di ASEAN. Mereka cenderung kurang memedulikan kerja sama regional,
menyebabkan divergensi makin menguat. Masalah penanganan pengungsi
Rohingya dan kabut asap menjadi contohnya.
Ketujuh, para pejabat tinggi negara ASEAN cenderung bersifat wait and see
dan menghindari komitmen. Mereka sering kali menyesalkan kerja sama
ASEAN yang tidak maju-maju tanpa berani melakukan terobosan. Hal
tersebut laksana orang yang hanya menunggu buah jatuh dari pohon tanpa
berusaha mengambil buah dengan cara lain. Lee (2006) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa ASEAN bersandarkan pada mimpi integrasi dan satu
komunitas, tetapi cenderung menuju kegagalan karena berbasis pada kerja
sama antarpemerintah yang lemah.
Kedelapan, ASEAN saat ini sedang
terbelah oleh berbagai kerja sama kawasan lain yang lebih dinamis dan
menjanjikan bagi negara pesertanya, seperti Kerja Sama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC) dan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). APEC memberikan
dorongan yang lebih dinamis bagi kerja sama ekonomi meskipun bersifat
sukarela dan tak mengikat secara hukum. Sementara itu, TPP menawarkan
liberalisasi perdagangan yang sangat ambisius dan menjanjikan akses
pasar yang lebih luas bagi 12 negara anggotanya, termasuk sejumlah
negara ASEAN (Malaysia, Brunei, Vietnam, dan Singapura) yang menguasai
40 persen ekonomi dunia.
Kedelapan faktor di atas sulit untuk
diselesaikan tanpa keberanian setiap negara untuk melakukan terobosan.
Apabila dibiarkan berlarut-larut, masa depan kerja sama ASEAN terancam
tidak menentu dan cenderung menjadi arena rendezvous para pejabatnya saja. Ternyata di usia ke-48, masa depan ASEAN pun belum pasti.
Andre Notohamijoyo
Delegasi RI dalam Forum Kerja Sama ASEAN Bidang Pertanian dan Kehutanan; Bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Oktober 2015, di halaman 7 dengan judul "Masa Depan ASEAN".
No comments:
Post a Comment