Blog ini merupakan kumpulan artikel di media massa
Thursday, December 24, 2015
Menjadi Daerah Cerdas
Menjadi Daerah
Cerdas
KOMPAS Cetak |
Harian Kompas bekerja sama dengan Institut
Teknologi Bandung dan Perusahaan Gas Negara pada Agustus lalu memberikan
anugerah kepada Kota Surabaya sebagai kota dengan penilaian tertinggi dalam
Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015. Ibu kota Provinsi Jawa Timur ini berada di
urutan tertinggi dari 93 kota di Indonesia yang dinilai sudah menerapkan konsep
kota cerdas dilihat dari aspek perekonomian, sosial, dan lingkungan.
Kota
Surabaya di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini (2010-2015) memang maju pesat.
Mantan Kepala Dinas Pertamanan Surabaya ini mulai membangun Surabaya dengan
mewujudkan kota terpadat kedua di Indonesia itu menjadi kota yang nyaman bagi
warganya. Ini dilakukan mulai dengan membangun taman-taman yang asri dan ruang
terbuka hijau hingga mengajak warganya mengelola sampah dengan cerdas.
Dari pengelolaan sampah, pemberdayaan
ekonomi masyarakat pun dimulai. Pengelolaan sampah tidak hanya membuat Surabaya
yang semula kumuh dan banyak sampah berubah menjadi kota yang bersih dan nyaman
ditinggali, tetapi juga menghasilkan kompos dan tenaga listrik. Warga Surabaya
pun dididik untuk berdaya melalui sejumlah pelatihan keterampilan ataupun
komputer yang diselenggarakan secara gratis. Pendidikan gratis di
sekolah-sekolah pemerintah dari tingkat SD hingga SMA. Infrastruktur di
daerah-daerah pinggiran pun dibenahi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi warga
di pinggiran kota.
Hasilnya, berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS) Kota Surabaya hingga 2013, angka kemiskinan di Surabaya terus
turun. Pada 2010, angka kemiskinan di Surabaya 7,07 persen, pada 2013 turun
menjadi 5,97 persen dari 2,8 juta penduduk Surabaya. Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) Surabaya juga terus meningkat, dari 77,2 pada 2010 menjadi 78,51 pada
2013.
Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Risma
memang contoh fenomenal pembangunan sebuah kota. Empat belas kota lainnya yang
masuk kategori 15 besar dalam penilaian Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI)
2015, yaitu Kota Tangerang, Bandung, Depok, Semarang, Yogyakarta, Balikpapan,
Surakarta, Pontianak, Malang, Magelang, Madiun, Bontang, Mojokerto, dan
Salatiga, juga dinilai mempunyai keunggulan dalam menerapkan konsep cerdas
pembangunan kota.
Penilaian tersebut dilakukan dengan
melihat cara kota mengambil langkah cerdas dalam aspek perekonomian, sosial,
dan lingkungan. Sebuah kota dianggap bisa menerapkan konsep cerdas dalam
perekonomian jika mampu memaksimalkan sumber daya dan potensi yang dimiliki
demi meningkatkan kesejahteraan warganya. Aspek sosial meliputi keamanan,
kemudahan, dan kenyamanan dalam berinteraksi, baik antarwarga maupun dengan
pemerintah. Adapun aspek lingkungan meliputi pengelolaan lingkungan, energi,
dan tata ruang.
Pertimbangan pemilihan kota dalam penilaian ini lebih pada
fakta bahwa banyak persoalan yang dihadapi kota seiring dengan arus urbanisasi
dari desa ke kota yang masih akan terus terjadi. Selain itu, juga pada
kenyataan bahwa kota menyumbang nyata pada perekonomian nasional, saat ini
sekitar 74 persen dan pada 2030 sekitar 86 persen (Kompas, 14/8).
Kabupaten
yang membangun
Apabila mengacu pada IKCI 2015, dari 415
kabupaten di Indonesia, ada sejumlah kabupaten yang juga maju pesat karena
pemerintahannya cerdas dalam membangun wilayahnya. Beberapa kabupaten tersebut
bahkan berada jauh dari pusat pemerintahan provinsi yang identik dengan pusat
pembangunan di daerah.
Kabupaten Banyuwangi yang berada di ujung
timur Jawa Timur, sekitar 310 kilometer dari Kota Surabaya, misalnya, geliat
pembangunannya semakin pesat lima tahun terakhir. Sektor pariwisata didorong
untuk memajukan wilayah dan meningkatkan perekonomian warganya.
Sepanjang tahun digelar festival, mulai
dari festival yang berisi pementasan kesenian daerah hingga buah lokal.
Infrastruktur untuk menunjang pariwisata disiapkan. Bandar Udara Blimbingsari
yang dibuka sejak Desember 2010 kini setiap hari dilayani dua maskapai
penerbangan. Ini memacu peningkatan investasi di bidang pariwisata, dari Rp
1,19 triliun pada 2012 menjadi Rp 3,44 triliun pada 2014. Sejumlah hotel
berbintang tengah dibangun di Banyuwangi.
Masyarakatnya pun disiapkan, terutama
untuk menerima kedatangan wisatawan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi antara
lain menyelenggarakan pelatihan bahasa asing dan mendidik masyarakat melek
internet. Jaringan internet nirkabel (Wi-Fi) pun disediakan secara gratis hingga
pelosok daerah.
Hasilnya, pariwisata mampu menggenjot
perekonomian masyarakat. Pendapatan per kapita warga Banyuwangi naik 70 persen
dari Rp 14,97 juta pada 2010 menjadi Rp 25,5 juta pada 2014. IPM Banyuwangi pun
meningkat dari 64,5 pada 2010 menjadi 67,3 pada 2014.
Di Sulawesi Selatan ada Kabupaten
Bantaeng, sekitar 120 kilometer dari Makassar, yang mengoptimalkan segala
potensinya, bahkan yang di luar perkiraan bisa dikembangkan Bantaeng. Tanaman
stroberi dan bunga sakura yang semula tak ada di Bantaeng kini menjadikannya
pusat belajar dan penelitian. Laboratorium kultur jaringan dan pabrik benih
didirikan untuk memajukan sektor pertanian.
Pemerintah Kabupaten Bantaeng pun tak
ragu meminta pemerintah pusat membangun kawasan smelter, pusat industri tambang,
di Bantaeng meskipun Bantaeng tidak mempunyai tambang nikel. Posisi Bantaeng di
Selat Makassar yang dilalui kapal-kapal besar pembawa hasil tambang dari
Sulawesi Tenggara yang ditawarkan. Kini, pembangunan smelter di wilayah
Pajukukang sedang dikerjakan.
Kabupaten Tanah Bumbu di Kalimantan
Selatan pun maju pesat. Daerah di ujung tenggara Pulau Kalimantan ini, sekitar
260 kilometer dari Banjarmasin, mengandalkan hasil perkebunan, kelautan, dan
terutama pertambangan, untuk membiayai pembangunannya.
Hasil tambang batubara dan bijih besi,
misalnya, dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pendidikan gratis 12
tahun, biaya pengobatan gratis di kelas tiga rumah sakit pemerintah, juga untuk
menggaji guru honorer. Setiap tahun, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu
mendapatkan sumbangan dari pengusaha tambang lebih dari Rp 100 miliar serta
royalti sektor pertambangan sekitar Rp 200 miliar.
Peluang kerja juga terbuka lebar karena
paling tidak 75 perusahaan dan koperasi unit desa mendapat izin menambang
batubara. Ini mendorong perekonomian masyarakat tumbuh. Pemerintah kabupaten
juga membangun jalan-jalan menjadi mulus agar aktivitas ekonomi warganya
lancar.
Berkembang
karena cerdas
Banyuwangi, Bantaeng, dan Tanah Bumbu
hanyalah sedikit contoh daerah yang berkembang pesat karena "cerdas"
mengembangkan potensinya. Capaian daerah-daerah tersebut, dan juga kota-kota
yang menerapkan konsep kota cerdas, tak terlepas dari peranan kepala daerahnya.
Di bawah pemerintahan Risma, Surabaya
maju pesat. Banyuwangi juga maju pesat di bawah Bupati Abdullah Azwar Anas
(2010-2015). Demikian juga Bantaeng yang dipimpin Nurdin Abdullah sejak 2008
dan Tanah Bumbu di bawah Mardani H Maming (2010-2015). Mereka giat membangun,
juga kreatif dalam memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerahnya. Satu hal
penting, mereka konsisten dan punya komitmen tinggi memajukan daerahnya. Mereka
tak hanya membangun daerah, tetapi juga membangun rakyatnya menjadi lebih maju
dan bangga akan daerahnya.
Hal itu bisa terjadi karena mereka paham
kebutuhan rakyatnya dan berupaya memenuhinya. Kebutuhan dasar seperti
pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi rakyat diperhatikan. Tak heran
jika dalam pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember lalu, Risma, Azwar Anas,
dan Mardani menjadi harapan rakyatnya untuk kembali memimpin pada lima tahun ke
depan. Mereka terpilih lagi bukan hanya karena calon petahana, melainkan juga
karena kiprah mereka lima tahun terakhir dalam memimpin daerah.
Terpilih menjadi kepala daerah sejatinya baru awal dari
proses panjang menjadi pemimpin di daerah. Pilkada serentak 9 Desember lalu
akan menghasilkan 252 bupati/wali kota (pilkada di empat kabupaten/kota ditunda
karena masalah pencalonan). Di tangan para kepala daerah inilah arah
pembangunan daerah ditentukan. Mengutip pernyataan mantan Wali Kota Yogyakarta
Herry Zudianto (Kompas, 27/6/2014), kepala daerah
yang mempunyai potensi kreatif dan keahlian yang besar, asal punya komitmen,
pasti bisa memajukan daerahnya.(YOVITA
ARIKA)
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Desember
2015, di halaman 6 dengan judul "Menjadi Daerah Cerdas".
No comments:
Post a Comment