Sunday, August 14, 2016

Menggali Akar Filosofis Perusahaan Ekonomi Berbagi

HARRIS TURINO

Fenomena unik menghiasi dunia bisnis saat ini. Uber yang sama sekali tidak memiliki aset berupa taksi adalah perusahaan taksi terbesar di dunia. Bahkan nilai perusahaan yang baru berdiri kurang dari 8 tahun ini sebesar 68,8 miliar dollar AS, lebih besar dibandingkan nilai perusahaan dari raksasa otomotif Amerika, the three giants, yaitu Ford, General Motor dan Chrysler.
AirBnB saat ini sudah menjadi perusahaan penyedia akomodasi terbesar di dunia, walaupun tidak memiliki aset berupa hotel dan properti. Alibaba yang didirikan oleh Jack Ma pada tahun 1999 saat ini adalah toko ritel terbesar di dunia, walaupun juga tidak memiliki aset berupa toko. Kapitalisasi pasarnya sudah melebihi toko buku online terbesar di dunia, Amazon, yang awalnya juga tidak punya aset fisik berupa toko buku.
Di ranah nasional, fenomena serupa juga terjadi. GoJek sudah bukan lagi hanya perusahaan ojek terbesar di Indonesia, tetapi sudah merambah ke jasa logistik (GoBox), pengiriman makanan (GoFood) bahkan sampai ke jasa pijat (GoMassage). Padahal mereka juga tidak memiliki aset berupa kendaraan.

Saturday, August 13, 2016

Paradoks Konsolidasi Demokrasi


Meskipun Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) menunjukkan tren peningkatan sejak 2009, sejumlah paradoks justru menegasikan kecenderungan positif tersebut. Alih-alih semakin berkualitas, demokrasi Indonesia justru mulai memperlihatkan indikasi dekonsolidasi.
Tak mudah menjawab perkembangan paradoksal demokrasi itu. Implikasinya, timbul pertanyaan yang ditujukan pada ketepatan pengukuran demokrasi. Maka, penjelasan apa yang bisa menjawab situasi tersebut?

Bahagia dengan Menjalin Relasi Sosial


Konon dikatakan bahwa orang yang paling bahagia cenderung memiliki banyak teman, dapat membangun hubungan yang saling mendukung, mengasihi, dan berjangka panjang. Bagaimana cara kita dapat memperoleh kondisi tersebut?
Menurut Timothy J Sharp (2008), menjalin hubungan semacam itu bukan semata-mata terhadap orang lain saja, tetapi perlu dimulai dari diri sendiri. Memahami kebutuhan diri sendiri dan gaya komunikasi kita adalah sama pentingnya dengan belajar untuk menyampaikan perhatian dan emosi, serta membangun kepercayaan dalam hubungannya dengan mereka.
Di dalam buku 100 Ways to Happiness, a Guide for Busy People, Sharp menguraikan berbagai cara untuk memperoleh relasi antar manusia secara lebih baik. Berikut beberapa di antaranya:

Thursday, June 30, 2016

Pancasila dan Desa

OPINI > ARTIKEL > PANCASILA DAN DESA





Desa telah menjadi altar baru dalam gempita pembangunan nasional. Seusai aneka percobaan pembangunan dijalankan dengan hasil yang sebagian mengecewakan, muncul hasrat baru dengan meletakkan desa sebagai sumbu pembangunan. Namun, di sini muncul pertanyaan kritis: jika desa ditunjuk sebagai titik tumpu pembangunan, apakah desa menjadi sekadar lokus pembangunan ataukah filosofi dan kerangka dasar pembangunan juga berubah?

Religiositas ”Bung Besar”


Juni adalah bulan kelahiran Pancasila. Di tangan Bung Karno sebagai penggalinya,Pancasila mendapatkan rohnya yang paripurna.
Tentang hal ini tentu telah mendapatkan telaah memadai. Satu hal yang sering dilupakan adalah kenyataan bahwa Bung Karno merupakanpribadi yang sangat religius dengan pemikiran keagamaan unik yang menarik dijadikan bahan renungan bersama justru di tengah pemikiran dan tindakan keagamaan akhir-akhiryangbanyak bertentangan dengan akal sehat.
Dua hal menjadi lokus nalar keagamaan Bung Besar itu. Pertama,kewajiban menjadikan akal sebagai daulat utama; kedua, keniscayaan memosisikan agama sebagai kekuatan untuk membangun kesadaran anti kolonial.
Imperatif yang pertama, segala bentuk kepatuhan tak beralasan (taklid) tidak saja harus disingkirkan, tetapi juga dipandang sebagai akar kemunduran. Pemuliaan terhadapakal harus menjadi bagiankeinsafan kolektif umat Islam seperti zamanAl-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi yang sering disebut abad keemasan. ”Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu takhayul.”

Religiositas ”Bung Besar”


Juni adalah bulan kelahiran Pancasila. Di tangan Bung Karno sebagai penggalinya,Pancasila mendapatkan rohnya yang paripurna.
Tentang hal ini tentu telah mendapatkan telaah memadai. Satu hal yang sering dilupakan adalah kenyataan bahwa Bung Karno merupakanpribadi yang sangat religius dengan pemikiran keagamaan unik yang menarik dijadikan bahan renungan bersama justru di tengah pemikiran dan tindakan keagamaan akhir-akhiryangbanyak bertentangan dengan akal sehat.
Dua hal menjadi lokus nalar keagamaan Bung Besar itu. Pertama,kewajiban menjadikan akal sebagai daulat utama; kedua, keniscayaan memosisikan agama sebagai kekuatan untuk membangun kesadaran anti kolonial.
Imperatif yang pertama, segala bentuk kepatuhan tak beralasan (taklid) tidak saja harus disingkirkan, tetapi juga dipandang sebagai akar kemunduran. Pemuliaan terhadapakal harus menjadi bagiankeinsafan kolektif umat Islam seperti zamanAl-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi yang sering disebut abad keemasan. ”Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu takhayul.”

Darurat Desentralisasi Fungsional

IRFAN RIDWAN MAKSUM

Bulan April adalah bulan otonomi bagi bangsa Indonesia. Catatan terakhir dalam panggung otonomi daerah di Indonesia tergores akibat persoalan merosotnya perekonomian Kota Batam.
DIDIE SW
Menurut sejumlah pihak, kemerosotan terjadi karena perseteruan Pemerintah Kota Batam dan Otorita Batam yang tak kunjung usai mengenai siapa yang lebih berhak mengelola arus perdagangan di kota tersebut. Juga pada titik-titik mana urusan perdagangan di kota tersebut dapat dibagi-bagi antara pemerintah kota dan pihak Otorita Batam.
Perseteruan tersebut menyeruak ke panggung nasional lantaran dampaknya yang besar. Bahkan, sampai-sampai pertumbuhan ekonomi Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN dapat terpengaruhi karena pola kebijakan nasional, seperti di Kota Batam dapat terancam. Untuk itu, ”kasus Batam” patut dicermati.