Isra Miraj, Membangun Pendidikan yang Toleran
Sekolah harus menjadi sumber lahirnya rasa aman dan rasa bahagia, jangan sampai ada kebencian.
Peringatan Isra’ Miraj 2015 menjadi momentum sangat strategis bagi
dunia pendidikan di Indonesia untuk membangun pendidikan toleran. Isra’
Miraj bukan sekadar acara seremonial, melainkan refleksi kritis untuk
menemukan kembali saripati ajaran beragama dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sangat tepat kalau dijadikan spirit menemukan strategi baru
dalam melahirkan kehidupan yang toleran-transformatif.
Menguak hikmah Isra’ Miraj dalam toleransi ini sangat mendesak, karena banyak kasus kekerasan di lembaga pendidikan, bahkan diunggah di laman Youtube. Ini mengindikasikan generasi dengan jiwa toleran makin sedikit jumlahnya, sehingga berbagai kekerasan terjadi di berbagai tempat. Perbedaan satu dengan yang lain dianggap sebagai ancaman dan musuh. Perbedaan agama sering menyulut konflik yang mengenaskan.
Menurut
Prof Bruce D Perry (2013), sekolah harus menjadi sumber lahirnya rasa
aman dan rasa bahagia, jangan sampai ada kebencian. Ada dua faktor dalam
diri anak untuk merasakan keamanan dalam dirinya. Pertama, adalah ia
harus merasa spesial, berharga, dan diterima. Jika ia merasa diterima
orang lain, akan lebih mudah untuknya bisa menerima orang lain.
Kedua adalah level keterancaman anak dalam situasi baru. Otak memiliki sistem saraf yang menilai dan merespons ancaman potensial. Otak secara langsung akan memproses pengalaman baru sebagai hal yang negatif dan menilainya sebagai ancaman hingga terbukti kebalikannya.
Jika ia berada dalam lingkungan yang ia kenal, pengalaman baru akan dinilainya sebagai keadaan aman dan menarik. Namun, jika keadaannya tak ia kenal dan mengancam, ia akan menilainya sebagai keadaan menakutkan.
Dua Model Pembelajaran
Muhammad
Munadi (2007) melihat ada dua model yang bisa dikembangkan sekolah
dalam membangun pendidikan yang toleran. Pertama, model
aksi-refleksi-aksi dalam pembelajaran yang lebih mementingkan pada
siswanya. Model ini diterapkan Paulo Freire yang lebih mementingkan
pembelajaran hadap-masalah (problem posing) dengan paradigma kritis
menggunakan dialog antara fasilitator dan pembelajar yang membawa
percakapan yang bernilai pengalaman divergen, harapan, perspektif, dan
nilai (value).
Dialog yang digunakan bukan bermakna sebatas teknis dan taktik. Namun, komunikasi kritis yang berarti merefleksikan bersama (guru dan siswa) apa yang diketahui dan tidak diketahui kemudian bertindak kritis untuk mentransfomasi realitas (Freire dan Shor, 2001: 51-52).
Terutama dari paradigma ini adalah pengakuan manusia sebagai hal yang sentral bagi sebuah perubahan yang memandang sistem dan struktur sosial secara kritis (Mansour Fakih, 1996: 63).
Pembelajaran ini bersifat membebaskan yang memiliki prasyarat (diilhami dari sebuah buku Riset Partisipatoris Riset Pembebasan, karya Walter Fernandes dan Rajesh Tandon), di antaranya: tidak ada pembagian kekuasaan, kedudukan guru dan siswa adalah seimbang dalam mencari kebenaran ilmu pengetahuan (setara dalam srawung ilmiah). Keduanya merupakan mitra belajar sehingga harus saling menghormati;
Penggunaan sumber daya setempat (khususnya murid, sumber belajar, bahan ajar, dan lainnya yang terkait dengan pembelajaran).
Sumber
dari luar siswa hanya memainkan peran pendukung dan tidak lagi
merupakan sumber dominan dan kontrol; pembelajaran mengakar pada konteks
setempat, model rancangan dan pelaksanaan model secara sederhana dan
relevan berasal dari masukan siswa; menekankan pada pembelajaran
kualitatif dan berorientasi pada proses.
Kedua, model ignasian. Model ini hampir mirip dengan yang pertama, langkah yang ditempuh meliputi: konteks, pengalaman (langsung maupun tidak langsung), refleksi (daya ingat, pemahaman, daya imajinasi dan perasaan) untuk menangkap arti dan nilai hakiki dari apa yang dipelajari, aksi (tindakan ini mengacu kepada pertumbuhan batin manusia berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan dan mengacu juga kepada yang ditampilkan), dan evaluasi (Drost, 1999: 45-58).
Menjadi Toleran-Transformatif
Dalam
jejak hidupnya, Nabi Muhammad mengajarkan kepada umatnya untuk selalu
hidup toleran, harmonis, dan berjiwa transformatif. Artinya, nilai-nilai
toleransi harus ditransformasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan
nyata, sehingga nilai toleransi mampu menciptakan tatanan sosial yang
berkeadaban dan bermartabat.
Menurut Arif Republik (2008) ada beberapa tips menarik yang bisa digunakan untuk membangun semangat toleran-transformatif kepada generasi bangsa. Pertama, menunjukkan sikap menghargai orang lain; tinggal di lingkungan perumahan memungkinkan pertemuan dengan para tetangga dengan budaya, agama, dan kebiasaan yang beragam.
Kedua, memberikan contoh; membicarakan toleransi dan sikap menghargai akan membantu anak memahami nilai apa yang ingin Anda tanamkan pada diri mereka. Ketiga, berhati-hati dalam bicara. Ingatlah anak-anak selalu mendengar perkataan Anda. Jadi, hati-hatilah jika membicarakan kebiasaan orang-orang yang berbeda dengan diri Anda.
Keempat, cermat memilih mainan, buku, dan musik. Ingatlah pengaruh media sangat besar dalam membentuk perilaku anak. Fokuskan pembicaraan dengan anak mengenai stereotipe yang tidak adil dan mungkin terpapar di media seperti film dan cerita-cerita pada buku.
Kelima, menjawab dengan jujur. Pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kebiasaan beragama dan berbudaya yang berbeda harus dijawab dengan jujur dan mencerminkan sikap menghormati. Keenam, mencari komunitas yang beragam.
\Berilah kesempatan anak untuk bermain dan beraktivitas dengan orang lain yang berbeda dengan diri mereka. Misalnya ketika memilih sekolah, tempat berlibur, atau penitipan anak, carilah tempat yang populasinya beragam.
Penulis adalah peneliti pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dan Litbang PW Fatayat NU DIY.
No comments:
Post a Comment