CATATAN MINGGU
Hajatan Penulis
BRE REDANA
Cetak |
120 dibaca
0 komentar
Borobudur Writers & Cultural Festival adalah festival yang amburadul. Besok pagi saya akan tampil pukul sembilan, tapi itu kalau jadwalnya benar. Judul saya belum tahu. Ini dikatakan oleh seniman Desa Mendut, Jawa Tengah, Sutanto, dalam pembukaan BWCF yang mengambil tempat di hotel berbintang di Yogya, minggu kedua November lalu. Petang usai pembukaan, puluhan peserta diangkut bus menuju kawasan Candi Borobudur di Magelang, tempat seluruh rangkaian acara berlangsung selama dua hari.
Mendengar ucapan Sutanto, peserta yang terdiri dari seniman, akademisi, rohaniwan, penulis, dan lain-lain tertawa. Di antara berbagai festival, BWCF boleh jadi merupakan festival yang paling kuat rasa komunitasnya. Tak ada yang tidak memaklumi kekurangannya. Sutanto melanjutkan, ini semua jauh lebih baik dibandingkan dengan acara yang diselenggarakan EO alias event organizer. Dr G Budi Subanar, Ketua Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, menyebutnya sebagai hajatan. Sebagaimana layaknya hajatan, orang yang merasa memiliki mengambil perannya sendiri-sendiri.
Komunitas setempat yang terdiri dari para petani di gunung-gunung di sekitar Magelang ambil bagian merayakan festival dengan berbagai cara. Sanggar Cahyo Budoyo dari Dusun Krandegan, desa paling tinggi di lereng Gunung Sumbing, menyediakan diri sebagai tuan rumah bagi para penyair untuk membaca puisi di situ. Mereka menjamu sekitar 150 tamu festival dengan makanan desa yang dimasak ibu-ibu. Tempe goreng langsung dihidangkan begitu diangkat dari penggorengan. Tak ketinggalan buntil daun talas dengan nasi panas, belut sawah, sambal pete, dan lain-lain.
Dari waktu ke waktu-tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat-BWCF mengangkat tema yang bisa bersentuhan dan dikaitkan dengan mitologi. Pertama kali mengangkat tema berkaitan dengan silat dan sejarah, dilanjutkan memori rempah dan bahari, lalu ratu adil, dan yang terakhir ini gunung, bencana, dan mitos. Dengan pembicara terdiri dari sastrawan, rohaniwan, arkeolog, sampai geolog dan vulkanolog, ini merupakan pertemuan antara seni dan sains, imajinasi dan pengetahuan, atau bahkan kata dan perbuatan.
Keterpecahan individu dikarenakan perkembangan teknologi dunia digital dijawab langsung oleh semangat komunitas dan bebrayatan. Gratis, tidak dikenai tiket mahal, apalagi harus bayar dengan dollar. Festival ini tidak memolitisasi dan mengomodifikasikan ancaman, baik ancaman politik maupun ancaman perubahan zaman yang serba tak terduga dari revolusi digital. Semua dijalani santai, termasuk jadwal dan hal-hal teknis lain.
Mitologi mendapat tempat untuk dibicarakan dalam seminar. Soalnya, bukankah mitologi merupakan salah satu determinan menentukan dalam perkembangan masyarakat? Pada mitologi, antara inspirasi dan pengalaman melebur, seperti meleburnya antara insting dan nalar.
Kekayaan imajinasi termasuk pekerti kehidupan tak mungkin Anda dapatkan dari Senayan. Manusia di gedung itu telah terkorup. Dia ada di gunung-gunung, desa pantai nelayan, sejarah dan mitos, seni dan sains, puisi dan vulkanologi, pendeknya: kebudayaan.
Dengan kata lain, apa yang kita jalani, apa yang kita kerjakan, bukan apa yang kita konsepkan, atau apa yang kita undang-undangkan. Kehidupan tak cukup hanya dirumuskan oleh law and order. Di luar itu, yang tak kalah penting membentuk diri kita adalah ritual dan kebudayaan. Secerdas apa pun sebuah konsep, hanya soal waktu: kehidupan akan melampauinya.
Pada festival ini, di antara agenda yang kurang jelas, di tengah dingin hawa gunung dan kabut yang datang dan pergi, toilet yang entah di mana, saya tidak melihat keterbelakangan masyarakat gunung, melainkan kekuatannya.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 November 2015, di halaman 12 dengan judul "Hajatan Penulis".
No comments:
Post a Comment