Tuesday, December 1, 2015

MEA, Antara Peluang dan Ancaman

OPINI > JAJAK PENDAPAT > MEA, ANTARA PELUANG DAN ANCAMAN

JAJAK PENDAPAT

DWI ERIANTO

Pasar bebas Asia Tenggara, dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), mulai berlaku akhir tahun ini. Barang, jasa, dan tenaga kerja semakin mudah untuk lalu lalang di negara anggota ASEAN. Bagi Indonesia, kesepakatan itu bisa menjadi pedang bermata dua. Jika diolah dan dikelola dengan baik, produk dan tenaga kerja Indonesia berpotensi merajai pasar Asia Tenggara. Sebaliknya, jika tak siap berkompetisi, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara anggota ASEAN lain.
Konsep masyarakat ekonomi ASEAN sudah digagas lebih dari satu dekade lalu. Gagasan itu baru terwujud pada tahun 1997 saat para pemimpin negara-negara ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015.
Para pemimpin yakin bahwa pemberlakuan MEA bakal menarik investor asing. Artinya, ASEAN bisa menyaingi kekuatan Tiongkok dan India sekalipun juga memperketat kompetisi di antara negara-negara anggota ASEAN sendiri.
Riset terbaru dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan, MEA diperkirakan menciptakan 14 juta lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf hidup sekitar 600 juta penduduk di kawasan Asia Tenggara. Tahun 2015, diperkirakan jumlah lapangan kerja keterampilan tinggi akan naik 41 persen atau 14 juta, sementara lowongan kerja keterampilan menengah tumbuh 22 persen atau sekitar 38 juta, dan pekerjaan dengan keterampilan rendah naik 24 persen atau setara dengan 12 juta.
Pasar bebas ASEAN memungkinkan kaum profesional dengan keahlian khusus, seperti tenaga medis, akuntan, arsitek, insinyur sipil, dan pengacara, untuk bekerja bahkan membuka praktik di negara-negara anggota ASEAN.
Dari sekian banyak negara ASEAN, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar, yakni 250 juta orang atau 40 persen dari total penduduk ASEAN. Jumlah ini menandakan Indonesia merupakan potensi pasar terbesar sekaligus pemilik sumber daya manusia terbanyak di ASEAN.
content
,,,
Bisa merugikan
Hasil survei Litbang Kompas dua bulan lalu tentang persepsi masyarakat Indonesia terhadap pemberlakuan pasar bebas ASEAN mengungkapkan kekhawatiran publik terhadap kesepakatan MEA. Hampir separuh responden yang terjaring survei tatap muka ini menyatakan MEA lebih merugikan Indonesia. Adapun responden yang menilai menguntungkan hanya satu dari delapan responden.
Persepsi negatif muncul mungkin karena minimnya sosialisasi tentang pasar bebas ASEAN kepada masyarakat, sebagaimana diakui oleh sebagian besar respoden yang tidak mengetahui soal MEA. Dua dari lima responden bahkan mengaku tidak pernah mendengar sama sekali tentang MEA. Sementara itu, hanya satu dari 20 responden yang mengaku tahu dan memahami pasar bebas ASEAN.
Sebagian besar responden khawatir pemberlakuan MEA akan berefek negatif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi Indonesia. Kualitas barang dan SDM kalah bersaing, perekonomian bakal lesu, dan pengangguran meningkat.
Pernyataan bernada khawatir tersebut tampaknya didasari oleh keraguan terhadap daya saing SDM Indonesia. Dibandingkan dengan Malaysia, misalnya, Indonesia tertinggal dalam penyiapan kualitas SDM, termasuk kualitas para pengajar di perguruan tinggi. Pemerintah Malaysia dengan berbagai kebijakan di bidang pendidikan menargetkan ada 60.000 doktor pada 2020. Kaum intelektual Malaysia juga dipacu untuk agresif melalukan penelitian, penulisan karya ilmiah di jurnal-jurnal internasional ternama, dan komersialisasi produk hasil penelitian.
Siswa  sekolah dasar beserta guru di Makassar menyambut sejumlah wali kota dan delegasi ASEAN Mayors Forum 2015 di anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (9/9) sore. Pertemuan Wali Kota se-ASEAN yang kedua ini melahirkan sejumlah kesepakatan, salah satunya membentuk jaringan dan mempererat koordinasi kota-kota se-ASEAN dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUSSiswa sekolah dasar beserta guru di Makassar menyambut sejumlah wali kota dan delegasi ASEAN Mayors Forum 2015 di anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (9/9) sore. Pertemuan Wali Kota se-ASEAN yang kedua ini melahirkan sejumlah kesepakatan, salah satunya membentuk jaringan dan mempererat koordinasi kota-kota se-ASEAN dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Peluang
Meski nada sumbang lebih mengemuka, di sisi lain masih ada sebagian anggota masyarakat yang optimistis MEA memberikan peluang bagi Indonesia menjadi raja di Asia Tenggara. Sebagian responden survei mengapresiasi pemberlakuan MEA. Mereka optimistis MEA berpengaruh positif terhadap Indonesia, seperti bakal meningkatnya kualitas barang asal Indonesia, kualitas SDM, serta bersaingnya harga barang dan jasa.
Menurut sebagian responden, MEA akan mendorong pengusaha semakin kreatif dalam situasi persaingan yang ketat. Begitu pula para profesional semakin ditantang untuk meningkatkan keterampilan, kompetensi, dan profesionalitas mereka. Hal itu berarti akan meningkatkan persaingan di kalangan masyarakat seperti disuarakan oleh satu dari lima responden.
Kemampuan memanfaatkan tantangan MEA menjadi peluang kemajuan dan perkembangan Indonesia bergantung pada kesiapan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat secara luas.
(LITBANG KOMPAS)
  • 0
  • 0

No comments:

Post a Comment