Thursday, August 13, 2015

Hukum Menghina Presiden

Moh Mahfud MD

Banyak yang kaget ketika diberitakan pemerintah memasukkan kembali pasal-pasal penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden di dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru.

Berita itu muncul setelah pada 6 Juli 2015 Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly menyampaikan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) baru, yang di dalamnya memuat dua pasal tentang ancaman pidana serius bagi setiap orang yang menghina Presiden atau Wakil Presiden. 

Koalisi Parpol di Pilkada Serentak


Ridho Imawan Hanafi
Kompas Cetak | 14 Agustus 2015 
Proses pendaftaran calon kepala daerah dalam pilkada serentak yang digelar pada Desember 2015 diwarnai dengan koalisi cair antarparpol pengusung di daerah.
Parpol berkoalisi secara acak tanpa harus tersekat pemetaan antara parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Acaknya koalisi memperlihatkan pengusungan calon kepala daerah tidak mempersoalkan visi, platform, ideologi parpol, atau kandidat. Akan tetapi lebih bertemu pada sudut kepentingan jangka pendek, yaitu memenangkan kandidat tertentu dan memperoleh kekuasaan.

Monday, August 10, 2015

Antara Pembantu dan Penentu (I-V)

Catatan Jelang Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar)
Antara Pembantu dan Penentu (I)
Selasa, 16 Juni 2015, 06:00 WIB

Republika/Daan
Professor Ahmad Syafii Maarif
Professor Ahmad Syafii Maarif
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Bila tidak ada aral melintang, Muhammadiyah akan menyelenggarakan muktamarnya yang ke-47 di Makassar pada 3-7 Agustus 2015. Berbagai persiapan telah dilakukan sehingga diharapkan muktamar akan berjalan lancar dan produktif, sekalipun bendahara panitia Ir H Dasron Hamid MSc telah wafat pada 24 April 2015 di RS PKU Gamping, Yogyakarta.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, semoga sahabat kita ini mendapatkan husnu al-khatimah di akhir hayatnya, amin. Kematian Dasron memang sebuah kehilangan besar bagi Muhammadiyah, tetapi agama mengajarkan agar orang tidak boleh larut dalam suasana duka, betapa pun berat dirasakan.

Gagasan Kebangsaan NU


Koran SINDO
Jum'at, 31 Juli 2015 − 08:14 WIB

Anna Luthfie
Alumni Pondok Pesantren Al-Amin Gaprang Blitar


Nahdlatul Ulama (NU) dan gagasan tentang kebangsaan bagaikan dua keping mata uang yang tidak terpisahkan.

Bagaimana tidak, NU lahir sebagai upaya merajut kepentingan umat yang tetap tidak terpisahkan dari kepentingan kebangsaan. Dari mulai era prakemerdekaan sampai era digital saat ini komitmen kebangsaan tetap melekat dalam organisasi kemasyarakatan terbesar tersebut. Sumbangsih NU dalam merajut nilai-nilai kebangsaan tentu telah tercatat dengan apik dan rapi di dalam sejarah negeri ini, meskipun kemudian di sejarah perjalanan Orde Baru NU seakan menjadi anak tiri yang terasingkan dalam proses sosial politik.

Mengharap Terobosan (Baru) NU dan Muhammadiyah


Koran SINDO
Sabtu, 1 Agustus 2015 − 09:38 WIB

DRS H TAUFIQ R ABDULLAH
Anggota FPKB DPR RI,
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Periode 1999–2010


Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menggelar perhelatan tahunan pada waktu yang hampir bersamaan.

Muktamar Ke-33 NU digelar pada 1- 5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Adapun Muktamar ke-47 Muhammadiyah digelar pada 3-6 Agustus 2015 di Makassar, Sulawesi Selatan. Inilah peristiwa penting dalam sejarah gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Publik Indonesia dan dunia tentu menunggu keputusan dan terobosan yang akan diambil kedua organisasi terbesar tersebut.

Trisula Abad Kedua


Koran SINDO
Selasa, 4 Agustus 2015 − 08:30 WIB
Trisula Abad Kedua
BENNI SETIAWAN 

Abad kedua penuh tantangan. Tantangan itu masih terkait dengan etos pembaruan yang telah lama menjadi ciri Persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada 1912 ini.

Pembaruan Muhammadiyah abad pertama melalui pembangunan basis kesadaran dan kecerdasan melalui sekolah, penyantunan yang lemah melalui Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) dan Roemah Miskin, telah menjadi milik bangsa. Bangsa dan gerakan lain telah meniru langkah pembaruan Muhammadiyah itu melalui pembangun sekolah dengan berbagai model, lembaga penyantunan yatim piatu, dan gerakan-gerakan pendampingan terhadap kaum mustadh’afin (miskin).

Harapan terhadap Muhammadiyah


Koran SINDO
Senin, 3 Agustus 2015 − 10:29 WIB
Harapan terhadap Muhammadiyah
Abd Rohim Ghazali
Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina, Wakil Ketua Fokal IMM


Sejumlah harapan mengemuka menyambut Muktamar Ke-4 Muhammadiyah, 3-7 Agustus di Makassar, Sulawesi Selatan. Publik memberikan sambutan yang cukup antusias.

Selama kurang lebih sebulan sebelum muktamar, setiap hari ada berita atau isu yang muncul terkait Muktamar Muhammadiyah. Berbagai pemikiran dan gagasan (baik yang benar-benar baru maupun lama, tapi diperbarui) untuk memajukan Muhammadiyah bermunculan dari kalangan akademisi dan cendekiawan, baik dari mereka yang merasa dirinya punya attachment dengan Muhammadiyah ataupun tidak.