Udar Rasa
Bre Redana
KOMPAS Siang |
Dari waktu ke waktu revolusi dijual dengan nilai tukar entusiasme
manusia akan suatu perubahan. Pada zamannya, Ernesto ”Che” Guevara
memasarkan dan menggerakkan revolusi Marxist di Amerika Selatan, diawali
di Kuba sebelum akhirnya ia tertangkap dan ditembak mati di Bolivia.
Kiprah Che melegenda, menampilkan bukan saja heroisme, melainkan juga
romantisisme revolusi. Awal tahun 1950-an, pada umur 23 tahun, masih
sebagai mahasiswa kedokteran, bersama seorang teman ia mengarungi
negara-negara Amerika Selatan dengan sepeda motor Norton 500 cc. Dari
ekspedisi tanpa sponsor ini ia mendapati kemiskinan dan keterbelakangan
di hampir seluruh negara Amerika Latin.
Tekadnya bangkit. Ia siap berjuang dan siap mati untuk nasib kaum
miskin serta bersatunya Amerika Latin. Gelora perjuangannya menyebar
sampai Afrika dan Asia. Pada masa Soekarno ia pernah mampir ke
Indonesia.
Belakangan, warisan Che bukan hanya revolusi, melainkan juga strategi
konsumsi kebudayaan pop. Gambar wajahnya menghiasi kaus-kaus masa kini.
Kisah mengenai dirinya dalam buku dan film laris dijual.
Wajahnya yang ganteng, penampilannya yang berkarisma, kegagahannya di
atas sepeda motor, serta semangat juangnya merupakan adonan pas dari Das Kapital dan Easy Rider.
Yang disebut pertama adalah buku tebal berisi doktrin Marxisme. Yang
kedua adalah film Amerika, dibintangi Peter Fonda dan Dennis Hopper,
disebut para kritikus sebagai penanda penting gerakan counter culture anak-anak muda tahun 1960-an.
Dekade berikutnya, yakni dekade 1960-an itu, tak kalah bergejolak.
Muncul generasi yang melakukan perlawanan, bukan dengan senapan,
melainkan musik. Diiringi ingar-bingar rock,
lahir subkultur baru di kalangan remaja bersemangat anti kemapanan. Di
tengah konflik Blok Barat-Blok Timur serta Perang Vietnam, generasi ini
menyerukan slogan: make love not war. Pahlawan untuk dekade ini adalah John Lennon, Bob Dylan, Grateful Dead, Jim Morrison, dan lain-lain.
Apa hasilnya?
Semua orang tahu: retro 60-an/70-an dengan produk baik berupa musik ataupun fashion tak habis-habis dijual para pedagang dan perancang sampai kini. Banyak yang dapat untung. Bikinlah acara musik bertema back to seventies dipastikan banyak yang hadir, termasuk para bekas hostess yang beberapa kini jadi istri orang kaya.
Dalam beberapa hal, revolusi kelihatannya memang merupakan dagangan sexy.
Pada zamannya pula, Soekarno menggelorakan semangat revolusioner untuk
mengonsolidasi rasa kebangsaan bangsa ini. Problemnya, setelah bangsa
merdeka, di tengah agenda berikut berupa kebutuhan rakyat untuk hidup
sejahtera, pemimpin tadi tetap mengatakan revolusi belum selesai.
Akhirnya terjadilah di negeri ini, pada tahun 1965 revolusi memakan
anaknya sendiri. Kekuasaan Soekarno tumbang.
Ketika zaman berganti, di mana korupsi merajalela, semua hal dari hukum
hingga kursi kekuasaan dan kursi apa saja menjadi barang dagangan,
orang mendamba lagi perubahan yang sifatnya mendadak. Sebuah perubahan,
yang kalau bisa sifatnya tidak evolusioner, tetapi revolusioner.
Pada saat itulah muncul dagangan bernama revolusi yang disesuaikan
dengan kebutuhan zamannya. Masyarakat sekarang yang sehari-hari
berkeliaran di mal tentu tidak tertarik memanggul senjata masuk hutan.
Revolusi pun diperlunak menjadi revolusi mental.
Sejak semula, mestinya kita sadar, mental kok direvolusi. Unsur
pikiran, badan, spirit pada manusia hanya bisa berubah melalui tradisi
kehidupan sehari-hari yang menyentuh ketiganya secara sekaligus.
Hanya saja sudahlah, sebagaimana pemimpin kurang teliti memberikan
tanda tangan, terbawa euforia waktu itu kami kurang teliti membeli
revolusi. Ternyata yang kami beli bukan revolusi mental, melainkan
revolusi gombal.
Tolong kasih tahu saya, cara menukarnya?
No comments:
Post a Comment