A Agus Sriyono
Kompas Cetak |
Serangan militer Rusia sejak 30
September 2015 ke berbagai wilayah di Suriah memicu ketegangan baru
antara Rusia dengan Amerika Serikat. Serangan ini merupakan wujud
dukungan Rusia terhadap Presiden Bashar al-Assad.
Para pejabat AS yakin serangan Rusia tidak diarahkan pada kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), melainkan kaum pemberontak anti pemerintah. Pemberontak dari berbagai faksi di Suriah memperoleh dukungan AS dan koalisinya.
Akar perselisihan
Dukungan
Rusia terhadap pemerintahan Assad bertentangan dengan AS yang
menghendaki Presiden Assad mundur dari jabatannya. Perbedaan pandangan
ini merupakan akar perselisihan kedua negara. Rusia mendukung Assad
berdasar anggapan bahwa pemerintahnya sah. Sementara AS berpendapat
Assad tidak layak sebagai presiden karena selama empat tahun terakhir
pemerintahannya ia melakukan tindakan represif terhadap warganya.
Dalam
tataran operasional di lapangan, dukungan Rusia kepada pendukung Assad
dalam bentuk bantuan militer. Adapun AS berupaya menggulingkan kekuasaan
Assad dengan cara memberikan pelatihan militer kepada kelompok
pemberontak. Untuk sementara, variabel NIIS sebagai ancaman,
membanjirnya pengungsi Suriah ke Eropa, dan isu Sunni vs Syiah belum
mengemuka sebagai faktor penyebab krisis di Suriah.
Sebelum
serangan militer, kedatangan empat pesawat tempur multiguna Rusia di
Suriah pada 28 September 2015 sudah menimbulkan kemarahan AS. Dengan
penambahan empat pesawat berarti sedikitnya 32 pesawat tempur Rusia
telah berada di Suriah bersama sejumlah tank dan ribuan personel militer
yang ditempatkan di sekitar pangkalan udara di Provinsi Latakia. Dalam
hal ini Rusia secara kasatmata tampil menunjukkan kekuatan militernya.
Bukan
kebetulan, pengiriman empat pesawat tempur bersamaan waktunya dengan
pertemuan Presiden Vladimir Putin dengan Presiden Barack Obama di
sela-sela Sidang Ke-70 Majelis Umum PBB di New York. Rusia seolah
mengirimkan pesan agar AS menghentikan dukungannya kepada kelompok
pemberontak. Dalam pertemuan yang berlangsung hambar, kedua pemimpin
akhirnya sepakat untuk tidak sepakat mengenai penanganan krisis Suriah.
Serangan
militer Rusia pada 30 September sekaligus membuktikan kehadiran Rusia
di Suriah bukanlah gertak sambal. Menyikapi hal ini, AS diperkirakan
akan mengambil langkah-langkah sebagai reaksi atas tindakan militer
Rusia. AS tentu akan belajar dari pengalaman intervensi sebelumnya di
Irak, Afganistan, dan Libya. Apabila salah mengambil langkah, bukan
mustahil terjadi eskalasi konflik di Suriah, yang pada gilirannya
menimbulkan instabilitas di Timur Tengah.
Atas dasar perkembangan
di atas, maka timbul pertanyaan, bagaimana persaingan dua negara
raksasa berpengaruh terhadap stabilitas di Suriah serta bagaimana solusi
mengatasi potensi konflik yang ditimbulkan oleh persaingan tersebut.
Persaingan negara besar
Perspektif
kaum realis dalam politik internasional senantiasa mengandaikan adanya
kompetisi permanen di antara negara-negara besar guna memperoleh
pengaruh di kawasan. Apabila asumsi dasar ini diikuti, persaingan Rusia
dan AS di Suriah tampaknya tak bisa dielakkan. Kedua negara ingin
menanamkan pengaruhnya di kawasan karena pertimbangan kepentingan
geopolitik dan geoekonomi. Dengan demikian, potensi konflik menjadi tak
terhindarkan.
Anehnya, salah satu faktor perekat kedua negara
berupa bangunan persepsi bahwa NIIS merupakan musuh bersama sejauh ini
belum dapat menjadi faktor pemersatu. Memang, pejabat Rusia menyatakan
serangan militer berikut akan menyasar kantong-kantong NIIS, tetapi hal
ini masih perlu pembuktian. Tampaknya prioritas Rusia masih pada
dukungan penuh terhadap kelangsungan pemerintahan Assad, bukan counter terhadap gerakan NIIS.
Dari
segi sejarah, hubungan Rusia dengan Suriah memang sangat dekat. Kerja
sama militer kedua negara sudah berlangsung sejak setengah abad lalu.
Saat itu, banyak tentara Suriah dilatih di Rusia. Sampai saat ini, Rusia
masih mempertahankan pangkalan angkatan lautnya di Pelabuhan Tartous.
Itulah sebabnya, kehadiran Rusia selain dimaksudkan mempertahankan
kepemimpinan Assad juga untuk meng-contain pengaruh AS di kawasan. Rusia juga ingin dipandang dunia sejajar dengan negara-negara besar lain.
Bagi
Suriah, perebutan pengaruh antara dua negara adikuasa menyisakan
persoalan tersendiri. Apabila Assad mempertahankan dukungan Rusia demi survival,
hal ini akan mengundang permusuhan dengan AS. Akibatnya, Suriah akan
jadi ajang pertarungan negara-negara besar. Namun, jika Assad memutus
dukungan Rusia, besar kemungkinan Suriah jatuh di tangan pemberontak.
Penyelesaian diplomatik
Menyikapi
potensi konflik di Suriah, sedikitnya tiga langkah penyelesaian dapat
ditawarkan. Pertama, perlu diselenggarakan pertemuan darurat Menteri
Luar Negeri Rusia dan AS guna membahas penghentian serangan militer agar
tidak menimbulkan korban jiwa warga sipil lebih besar. Di samping itu,
perlu dibahas kerja sama yang melibatkan negara-negara anggota koalisi
untuk menyusun strategi dalam melawan NIIS. Di sini terbuka kemungkinan
terbentuknya aliansi melawan NIIS.
Kedua, dalam jangka menengah
perlu diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi trilateral antara
Pemerintah Suriah yang sah, Federasi Rusia, dan AS. Dalam pertemuan ini
perlu kesepakatan damai antara semua pihak yang bermusuhan dan mereka
harus berkomitmen untuk menghentikan segala bentuk kekerasan bersenjata,
baik yang dilakukan negara maupun kelompok sipil yang saling
bermusuhan.
Ketiga, jika dua opsi di atas gagal perlu
dipikirkan membawa permasalahan ke Dewan Keamanan PBB agar badan ini
mengeluarkan resolusi penghentian semua tindakan militer dan seruan
menyelesaikan krisis Suriah melalui perundingan. Kesepakatan melalui
jalur multilateral diharapkan memperoleh dukungan dari seluruh anggota
PBB.
Diakui, permasalahan Suriah sangat kompleks. Kalaupun dua
negara adikuasa dapat mencapai kesepakatan damai, tidak berarti
permasalahan domestik selesai.
Perseteruan antara pemerintah
dengan pemberontak yang berbeda latar belakangnya, permusuhan antara
kaum mayoritas dan minoritas, dan makin membanjirnya arus pengungsi,
merupakan sebagian permasalahan dalam negeri Suriah yang harus diatasi.
Pada akhirnya, penyelesaian krisis Suriah bergantung pada kemauan
politik seluruh pemangku kepentingan.
A Agus Sriyono
Pegawai
Kementerian Luar Negeri yang Ditugaskan pada Kementerian Koordinator
Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan; Tulisan Ini Merupakan Pandangan
Pribadi
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Oktober 2015, di halaman 7 dengan judul "Suriah di Simpang Jalan".
No comments:
Post a Comment